[Ilmu Budaya Dasar] Menelusuri Konsep Manusia dan Cinta Kasih Melalui Metode Wawancara dan Observasi ke Masyarakat Kurang Mampu
Posted by : Raindeca Dzulikrom Haqqu
Monday, April 16, 2018
Menelusuri Konsep Manusia dan Cinta Kasih Melalui
Metode Wawancara dan Observasi ke Masyarakat Kurang Mampu
Ilmu Budaya Dasar
Disusun Oleh:
M. HILMAN DZAKI
ARFADILLAH OLII (16117534)
RAINDECA DZULIKROM
HAQQU (14117910)
SINDI FERNANDA (161175340)
1KA16
FAKULTAS
ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI
JURUSAN
SISTEM INFORMASI
UNIVERSITAS
GUNADARMA
A. Mencari Objek Observasi
Dalam eksplorasi ini kelompok kami berkeliling
di sekitar kampus E Universitas Gunadarma. Berbeda dengan kebanyakan kelompok
1KA16 yang lain, kami mencari berbagai objek observasi dengan cara blusukan ke daerah yang bahkan kami
tidak tau tempatnya. Kami sengaja membuat diri kamu nyasar dari tempat
semestinya agar kami bisa mendapatkan data yang sesuai dengan apa yang kami
inginkan.
Dalam observasi kami menemukan berbagai
macam objek yang pas untuk dijadikan bahan observasi. Kami melihat seorang yang
mengenakan kostum kelinci menari – nari mengikuti alunan lagu sembari ditemani
oleh anak kecil membawa sebuah wadah kecil bekas kaleng cat. Mereka sendirian
mencari nafkah walau hampir warga disekitar tidak terlalu memperhatikan mereka.
Lokasi itu adalah di depan persis Masjid E Universitas Gunadarma. Kami berniat
mewancarainya namun salah satu anggota kami, Sindi, berpendapat bahwa ia tidak
bisa mewancarainya dengan alasan takut mengganggunya bekerja mengingat lokasi
orang ini berada di tengah kerumunan dan peluang kami mengganggu objek obervasi
lumayan besar.
Selanjutnya kami membututi Pemulung
yang bergerak tidak jauh dari lokasi objek observasi pertama. Sang pemulung
tersebut bergerak begitu cepat dan kami membutui sang pemulung itu dari
belakang tanpa diketahui jejaknya. Namun lama kelamaan sepertinya sang pemulung
sadar bahwa diikuti, setelah 15 menit membutuii kami kehilangan jejak beliau.
Lebih buruk lagi kami benar – benar tidak tahu di mana lokasi kami berada saat
ini.
Kami berusaha mencari Jalan raya terdekat
dan kamipun berhasil menemukan jalan raya. Sembari berjalan ditemani oleh terik
matahari yang begitu panas kami berdiskusi mengenai siapa objek observasi yang
berikutnya.
Tak jauh setelah kami
berjalan kami menumukan beberapa tukang bangunan yang sedang bekerja dan ada
yang sedang beristirahat. Melihat peluang ini kamipun memilih buruh tukang itu
sebagai objek observasi kami.
B.
Mewawancarai
Objek Observasi
Objek
Observasi kami mengenakan pakaian merah terkena noda bangunan dan topi untuk
melindungi diri dari panas. Kami menemuinya yang sedang berbincang kecil dengan
teman buruh yang lain yang ada di lokasi tersebut.
Pertama
– tama kami mengucapkan salam dan meminta maaf untuk mengganggu waktu bekerja
beliau. Berikutnya kami memperkenalkan diri kami dan maksud tujuan kami kepada
sang tukang dan sedikit berbincang beliau pun menerima permintaan kami untuk
mewawancarai objek observasi.
“Saya Yahya.”
Ucap sang tukang. Pak Yahya ini adalah seorang tukang bangunan yang sudah lama
bekerja. Beliau pun bercerita banyak hal dengan gayanya yang santai dan
terlihat sangat antusias dengan pertanyaan kami.
Menurut
beliau, beliau sudah bekerja sebagai tukang selama kurang lebih 35 – 38 tahun.
Waktu yang cukup lama sebagai abdinya kepada pekerjaannya. Kami sempat bertanya
mengenai pekerjaanya yang lain dan ia mengatakan bahwa sebenarnya ia pernah
bekerja sebagai satpam di perumahan Pondok Indah berkat kenalan/temannya yang
ada di sana, namun ia tidak lama bekerja di sana dan memutuskan untuk kembali
bertukang.
Sebagai
tukang, ia mengaku sudah tinggal lama di kawasan dekat sini dan ia bekerja
menjadi tukang sejak ia masih lajang. Kami bertanya mengenai keluarga dan ia
menjawab bahwa beliau menikah pada saat pekerjaannya pun sebagai tukang.
Ia
mempunyai anak dan alhamdullilah sudah berpendidikan serta semuanya ia tempuh
dengan pekerjaannya sebagai tukang. Menurut beliau, beliau sudah dikenal di
wilayah sekitaran daerah ini dan sangat mudah menemukan beliau. Beliau
bertempat tinggal di depan kamus Gunadarma. Melihat dari letak yang ia maksud
sepertinya yang di maksud adalah kampus E Universitas Gunadarma.
Berikutnya
kami menanyakan mengenai gaji beliau, beliau mengatakan bahwa beliau mendapat
gaji kurang lebih Rp.150.000,00 per hari nya untuk digunakan untuk sekeluarga
mulai dari makan dan tentunya membiayai anak – anaknya agar bisa sekolah.
Selanjutnya
pak Yahya sendiri yang menceritakan cerita hidupnya kepada kami. Beliau yang
sudah lama sekali menjadi kuli bangunan menceritakan kisahnya yang pada zaman
tempo dulu hanya sedikit orang yang mau menjadi kuli bangunan namun seiring
perkembangan zaman potensi itu justru terbalik.
Kami
sempat bertanya mengenai bagaimana pendapat beliau mengenai pekerjaanya dan
beliau pun menyatakan senang dengan pekerjaannya dan ikhlas dari lubuk hari
dari dalam.
Setelah
dirasa cukup kami memutuskan menyudahi pembicaraan kami dengan salam horma dan
terima kasih sekaligus berpamitan dengan teman – temannya yang ada di sana
karena kami takut menggangu pekerjaan mereka.
C.
Mengunjungi
Rumah Pak Yahya
Tertanggal
16 april 2018 kami memutuskan untuk melakukan observasi secara mendadak menuju
kediaman pak Yahya yang katanya berada di dekat kampus E Universitas Gunadarma.
Dengan bermodal bertanya – tanya kepada warga sekitar kami dapat dengan mudah
menemukan tempat tinggal beliau. Ini hal yang wajar karena pak Yahya telah
tinggal di kawasan ini selama kurang lebih 35 – 37 tahun lamanya.
Kawasan
rumahnya cukup memprihatinkan dan sejujurnya sedikit miris untuk tinggal di
kondisi seperti ini dengan durasi yang cukup lama. Kami dapat mengambil gambar
seadanya karena kami tidak sopan untuk tiba- tiba datang ke rumah tanpa izin
terlebih dahulu terlebih ini merupakan privasi keluarga Pak Yahya itu sendiri.
Yang
kami lihat ialah kumpulan sampah bakar dan peralatan – peralatan ataupun sampah
– sampah di sekitarnya. Rumahnya tergolong tidak terlalu buruk namun tetap
lokasinya tidak baik untuk kesehatan. Dua Teman kami, Sindi dan Hilman
mengabadikan gambar dengan beliau dan lain sebagainya.
D.
Kesimpulan
Bedasarkan
hasil observasi kami, dapat dikatakan bahwa seharusnya kita sebagai manusia
harus banyak – banyak besyukur karena hidup itu bagaikan roda yang berputar.
Manusia tidak akan puas dengan harta yang melimpah ataupun hedonisme yang
bertebaran. Akan tetapi, kunci kebahagian adalah menerima apa adanya karena
ketika kita besyukur dan saling menghargai maka disitulah cinta kasih yang
sesungguhnya.
E.
Lampiran/Riset Dokumentasi
Note: Kami mempunyai kendala teknis di mana
pada observasi pertama data yang kami miliki (perekam suara dan foto – foto)
Terhapus oleh salah satu anggota kami yang tidak bisa kami sebutkan namanya.
Oleh karena itu foto dibawah ini berisikan hasil observasi lokasi semata.
Related Posts
- Home>
- UG Assignment >
- [Ilmu Budaya Dasar] Menelusuri Konsep Manusia dan Cinta Kasih Melalui Metode Wawancara dan Observasi ke Masyarakat Kurang Mampu
