Manusia dan Keadilan

Ilmu Budaya Dasar





Disusun Oleh:
RAINDECA DZULIKROM HAQQU (14117910)








1KA16






FAKULTAS ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI
JURUSAN SISTEM INFORMASI
UNIVERSITAS GUNADARMA





  1. Definisi Keadilan dan Hubungannya dengan kemanusiaan
Sebelum saya memulai penjelasan dan opini saya mengenai manusia dan keadlian, izinkan saya untuk menjelaskan satu per satu bagian mengenai pokok bahasan ini. Pertama – tama kita harus mengtahui definisi fundamental tentang keadilan kemudian mencari korelasinya dengan sisi kemanusian. Setelah mendapatkan itu kita akan mencari suatu contoh kasus mengenai pokok bahasan kali ini.
           Menurut Wikipedia.org keadilan ialah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang. Menurut saya, ujung dari keadilan di sini ialah moral dari suatu permasalahan dan harus diberikan keadilan sesuai dengan “moral” yang ternodai.
Menurut Aristoteles bahwa keadilan ialah tindakan yang terletak diantara memberikan terlalu banyak dan juga sedikit yang dapat diartikan ialah memberikan sesuatu kepada setiap orang sesuai dengan memberi apa yang menjadi haknya.
      Menurut Thomas Hubbes yang menggemukakan bahwa pengertian keadilan ialah sesuatu perbuatan yang dikatakan adil jika telah didasarkan pada suatu perjanjian yang telah disepakati.
Serta dua orang ternama dari indonesia pun mempunyai definisi keadilan menurut pandangan mereka masing – masing. Sebut saja bapak W.J.S Poerwadarminto yang menggemukakan bahwa pengertian keadilan ialah tidak berat sebelah yang artinya seimbang, dan yang sepatutnya tidak sewenang-wenang. Lalu pengertian menurut Notonegoro yang menggemukakan bahwa keadilan ialah suatu keadaan yang dikatakan adil apabila sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
         Bila disimpulkan secara garis besar, keadilan adalah suatu kondisi di mana suatu titik “moral” mengalami ketidakseimbangan sehingga butuh suatu pembelaan yang berlandasaskan perjanjian dan juga hukum.
       Namun, perlu diketahui bahwa setiap “moral” yang dimaksud adalah terlalu umum dan luas maknanya. Hal itu menyebabkan definisi keadilan itu sendiri menjadi terlalu luas.
Andai kata, satu orang mengatakan bahwa hal itu tidak adil terhadap orang lain tetepi di mata orang tersebut tindakannya justru merupakan hal yang paling adil dari seluruh opsi yang ada.
       Yang saya tekankan di sini ialah terkadang keadilan itu sendiri telah atau mudah terdistorsi dengan kemauan individu setiap orang dan bagai pisau bermata dua, titik keadilan itu tidak selalu bermuah manis. Adil sendiri bisa berarti kejahatan yang keras.
         Saya mengutip salah satu dialog tokoh fiksi favorit saya dari serial film animasi jepang, Code Geass, Lelouch vi Britannia yang menyamar sebagai Zero. Dalam suatu pembicaraannya ia menyatakan suatu kalimat paradoks yang unik.

"When there is evil in this world that justice cannot defeat, would you taint your hands with evil to defeat evil? Or would you remain steadfast and righteous even if it means surrendering to evil?”

       Maksud dari paradoks ini adalah semua pilihan yang kita ambil baik secara buruk ataupun secara benar pada akhirnya akan berunjung kepada suatu keburukan yang lain. Lalu dalam dialog lain Lelouch pun mengutarakan suatu pernyataan yang sangat pintar.

“If strength is justice, then is powerlessness a crime?”

       Maksudnya ialah jikalah kekuatan(Hukum dan kebenaran) adalah suatu keadilan, maka apakah kita yang tidak dapat melakukan apa – apa(rakyat biasa yang tidak punya kekuatan sama sekali atau pihak yang tidak punya wewenang atas suatu keadilan yang lain) merupakan suatu kejahatan.
      Bedasarkan dari dua definisi yang bertolak belakang ini dapat dibuat suatu pernyataan bahwa suatu kedilan ialah moral dan setiap moral belum tentu sama. Setiap kedilan belum tentu berbau kebenaran karena kadang apa yang kita rasa buruk ialah keadilan yang sesungguhnya.


  1. Contoh Kasus Manusia dan Keadilan
          Banyak kasus yang dapat diceritakan dalam permasalahan ini. Saya akan menggunakan contoh yang sederhana yaitu mengenai masalah mengerjakan tugas kelompok. Mengapa demikian? Mudahnya karena hal ini sering kita rasakan terutama bagi kita yang duduk di instansi pendidikan.
       Dalam suatu kasus dilampirkan suatu masalah yang diberikan kepada suatu kelompok yang terdiri dari 5 orang. Dari lima orang itu memiliki kebiasaan dan cara kerja masing – masnng. Lalu di dalam kasus yang diberikan itu hanya ada satu orang yang paham betul masalah itu namun lainnya benar – benar buta.
         Lalu datanglah penyakit kerja kelompok yaitu numpang titip nama dalam presentasi. Mudahnya adalah dari kelima orang itu hanya akan bekerja satu orang yang mengenal materi itu dan sisanya hanya bersandiwara gurau tanpa mengetahui apa -apa.
Dalam sisi satu orang ini tentu ia merasa tidak adil karena ia yang capek, ia yang kerja tapi justru teman – temannya yang enak. Namun jika dia mengabaikan perasaannya dan bersifat individu maka ia harus mengorbankan perasaannya dan “moral” dan tentunya mengkhianati teman – temannya untuk menyatakan kebenaran yang sesungguhnya.
      Kasus sederhana itu jangan pernah dianggap remeh, karena korban mengalami despresi batin yang dalam terutama bagi pelajar yang sungguh – sungguh. Dalam hal inilah dapat dikatakan bahwa untuk mencapai keadilan yang dinginkan terkadang kita akan mengambil suatu tindak kejatahan yang lebih keras untuk mengalahkan kejahatan itu sendiri.

[Ilmu Budaya Dasar] Manusia dan Keadilan

Posted by : Raindeca Dzulikrom Haqqu
Thursday, June 21, 2018
0 Comments
Menelusuri Konsep Manusia dan Cinta Kasih Melalui Metode Wawancara dan Observasi ke Masyarakat Kurang Mampu
Ilmu Budaya Dasar



Disusun Oleh:
M. HILMAN DZAKI ARFADILLAH OLII (16117534)
RAINDECA DZULIKROM HAQQU (14117910)
SINDI FERNANDA (161175340)

1KA16



FAKULTAS ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI
JURUSAN SISTEM INFORMASI
UNIVERSITAS GUNADARMA





            A.    Mencari Objek Observasi    
Dalam eksplorasi ini kelompok kami berkeliling di sekitar kampus E Universitas Gunadarma. Berbeda dengan kebanyakan kelompok 1KA16 yang lain, kami mencari berbagai objek observasi dengan cara blusukan ke daerah yang bahkan kami tidak tau tempatnya. Kami sengaja membuat diri kamu nyasar dari tempat semestinya agar kami bisa mendapatkan data yang sesuai dengan apa yang kami inginkan.
            Dalam observasi kami menemukan berbagai macam objek yang pas untuk dijadikan bahan observasi. Kami melihat seorang yang mengenakan kostum kelinci menari – nari mengikuti alunan lagu sembari ditemani oleh anak kecil membawa sebuah wadah kecil bekas kaleng cat. Mereka sendirian mencari nafkah walau hampir warga disekitar tidak terlalu memperhatikan mereka. Lokasi itu adalah di depan persis Masjid E Universitas Gunadarma. Kami berniat mewancarainya namun salah satu anggota kami, Sindi, berpendapat bahwa ia tidak bisa mewancarainya dengan alasan takut mengganggunya bekerja mengingat lokasi orang ini berada di tengah kerumunan dan peluang kami mengganggu objek obervasi lumayan besar.
            Selanjutnya kami membututi Pemulung yang bergerak tidak jauh dari lokasi objek observasi pertama. Sang pemulung tersebut bergerak begitu cepat dan kami membutui sang pemulung itu dari belakang tanpa diketahui jejaknya. Namun lama kelamaan sepertinya sang pemulung sadar bahwa diikuti, setelah 15 menit membutuii kami kehilangan jejak beliau. Lebih buruk lagi kami benar – benar tidak tahu di mana lokasi kami berada saat ini.
            Kami berusaha mencari Jalan raya terdekat dan kamipun berhasil menemukan jalan raya. Sembari berjalan ditemani oleh terik matahari yang begitu panas kami berdiskusi mengenai siapa objek observasi yang berikutnya.
            Tak jauh setelah kami berjalan kami menumukan beberapa tukang bangunan yang sedang bekerja dan ada yang sedang beristirahat. Melihat peluang ini kamipun memilih buruh tukang itu sebagai objek observasi kami.



            B.    Mewawancarai Objek Observasi
Objek Observasi kami mengenakan pakaian merah terkena noda bangunan dan topi untuk melindungi diri dari panas. Kami menemuinya yang sedang berbincang kecil dengan teman buruh yang lain yang ada di lokasi tersebut.
Pertama – tama kami mengucapkan salam dan meminta maaf untuk mengganggu waktu bekerja beliau. Berikutnya kami memperkenalkan diri kami dan maksud tujuan kami kepada sang tukang dan sedikit berbincang beliau pun menerima permintaan kami untuk mewawancarai objek observasi.
“Saya Yahya.” Ucap sang tukang. Pak Yahya ini adalah seorang tukang bangunan yang sudah lama bekerja. Beliau pun bercerita banyak hal dengan gayanya yang santai dan terlihat sangat antusias dengan pertanyaan kami.
Menurut beliau, beliau sudah bekerja sebagai tukang selama kurang lebih 35 – 38 tahun. Waktu yang cukup lama sebagai abdinya kepada pekerjaannya. Kami sempat bertanya mengenai pekerjaanya yang lain dan ia mengatakan bahwa sebenarnya ia pernah bekerja sebagai satpam di perumahan Pondok Indah berkat kenalan/temannya yang ada di sana, namun ia tidak lama bekerja di sana dan memutuskan untuk kembali bertukang.
Sebagai tukang, ia mengaku sudah tinggal lama di kawasan dekat sini dan ia bekerja menjadi tukang sejak ia masih lajang. Kami bertanya mengenai keluarga dan ia menjawab bahwa beliau menikah pada saat pekerjaannya pun sebagai tukang.
Ia mempunyai anak dan alhamdullilah sudah berpendidikan serta semuanya ia tempuh dengan pekerjaannya sebagai tukang. Menurut beliau, beliau sudah dikenal di wilayah sekitaran daerah ini dan sangat mudah menemukan beliau. Beliau bertempat tinggal di depan kamus Gunadarma. Melihat dari letak yang ia maksud sepertinya yang di maksud adalah kampus E Universitas Gunadarma.
Berikutnya kami menanyakan mengenai gaji beliau, beliau mengatakan bahwa beliau mendapat gaji kurang lebih Rp.150.000,00 per hari nya untuk digunakan untuk sekeluarga mulai dari makan dan tentunya membiayai anak – anaknya agar bisa sekolah.
Selanjutnya pak Yahya sendiri yang menceritakan cerita hidupnya kepada kami. Beliau yang sudah lama sekali menjadi kuli bangunan menceritakan kisahnya yang pada zaman tempo dulu hanya sedikit orang yang mau menjadi kuli bangunan namun seiring perkembangan zaman potensi itu justru terbalik.
Kami sempat bertanya mengenai bagaimana pendapat beliau mengenai pekerjaanya dan beliau pun menyatakan senang dengan pekerjaannya dan ikhlas dari lubuk hari dari dalam.
Setelah dirasa cukup kami memutuskan menyudahi pembicaraan kami dengan salam horma dan terima kasih sekaligus berpamitan dengan teman – temannya yang ada di sana karena kami takut menggangu pekerjaan mereka.




            C.    Mengunjungi Rumah Pak Yahya
Tertanggal 16 april 2018 kami memutuskan untuk melakukan observasi secara mendadak menuju kediaman pak Yahya yang katanya berada di dekat kampus E Universitas Gunadarma. Dengan bermodal bertanya – tanya kepada warga sekitar kami dapat dengan mudah menemukan tempat tinggal beliau. Ini hal yang wajar karena pak Yahya telah tinggal di kawasan ini selama kurang lebih 35 – 37 tahun lamanya.
Kawasan rumahnya cukup memprihatinkan dan sejujurnya sedikit miris untuk tinggal di kondisi seperti ini dengan durasi yang cukup lama. Kami dapat mengambil gambar seadanya karena kami tidak sopan untuk tiba- tiba datang ke rumah tanpa izin terlebih dahulu terlebih ini merupakan privasi keluarga Pak Yahya itu sendiri.
Yang kami lihat ialah kumpulan sampah bakar dan peralatan – peralatan ataupun sampah – sampah di sekitarnya. Rumahnya tergolong tidak terlalu buruk namun tetap lokasinya tidak baik untuk kesehatan. Dua Teman kami, Sindi dan Hilman mengabadikan gambar dengan beliau dan lain sebagainya.




           D.    Kesimpulan
Bedasarkan hasil observasi kami, dapat dikatakan bahwa seharusnya kita sebagai manusia harus banyak – banyak besyukur karena hidup itu bagaikan roda yang berputar. Manusia tidak akan puas dengan harta yang melimpah ataupun hedonisme yang bertebaran. Akan tetapi, kunci kebahagian adalah menerima apa adanya karena ketika kita besyukur dan saling menghargai maka disitulah cinta kasih yang sesungguhnya.

          E.     Lampiran/Riset Dokumentasi
Note: Kami mempunyai kendala teknis di mana pada observasi pertama data yang kami miliki (perekam suara dan foto – foto) Terhapus oleh salah satu anggota kami yang tidak bisa kami sebutkan namanya. Oleh karena itu foto dibawah ini berisikan hasil observasi lokasi semata.






[Ilmu Budaya Dasar] Menelusuri Konsep Manusia dan Cinta Kasih Melalui Metode Wawancara dan Observasi ke Masyarakat Kurang Mampu

Posted by : Raindeca Dzulikrom Haqqu
Monday, April 16, 2018
0 Comments


(Gambar Menggunakan Lisensi Creative Commons Atribusi)


            Di tepi pantai itu aku melihatnya, tatapan mata yang begitu menawan. Ia berdiri sendirian ditemani cahaya bulan di kala malam. Sorotan matanya itu sedang merefleksikan dirinya di hamparan laut yang luas. Angin malam membuat rambut emasnya terhempas dan berkibaran bagaikan menari di angkasa.
            “Lina…”
            “Apakah aku membangunkanmu?”
            “Tidak, hanya aku saja yang susah tidur.”
            “Oh begitu.”
            Ia menatapku seakan tidak ada dosa di matanya. Senyum hangat itu tidak akan pula kulupakan walau satu detik sekalipun.
            “Lihatlah bulan purnama itu.”Ucap Lina.
            “Besar juga ya…”Jawabku.
            “Hei, menurutmu apakah aku dapat ke sana suatu saat nanti ya?”
            “Terbang menuju bulan bagai bidadari, melihat senyum dan tawa setiap orang dari atas langit.”
            “Pasti menyenangkan bukan?”
            “Iya.”Jawabku kembali.
            “Sayang mungkin ini terakhir kali aku dapat bertemu bulan indah ini.”
            “Apa maksudmu?”
            “Selesai dari liburan ini aku akan kembali bekerja dan belum tentu akan mendapat peluang seperti ini”
            “Oh iya, apakah kita dapat bertemu lagi ya?”Tanya Lina.
            Aku menunjukan telunjuk kananku ke arah bulan.
            “Percayalah, kejarlah mimpimu dan raihlah impianmu!”
            “Ahaha terima kasih, kau baik sekali rupanya.”
            “Hmm sepertinya aku dapat membantumu Lina.”
            “Bagaimana caranya?”
            “Mari kita berjanji di bawah bulan ini bahwa pasti kita akan bertemu kembali di bawah sinar yang sama.”
            “Apakah aku bisa?” Ragu Lina.
            “Lihatlah mataku Lina!”
            Lina memperhatikan bola mata semangat yang kumiliki. Bola mata yang akan membuat orang kembali dari ketepurukan apapun.
            “Aku berjanji kepadamu, aku berjanji bahwa aku akan kembali ke sinar bulan ini!” Janji Lina.
            “Semangat yang bagus Lina.”
            “Terima kasih banyak…”
            “Raindeca.”
            “Sama – sama Lina.”
            Perjumpaan ini menjadi pelepas dari pertemuan kami. Kami yang tidak sengaja bertemu entah mengapa begitu akrab.
            Mengapa? Entahlah. Apapun itu pertemuan aneh ini pun kuingat dalam kalbuku dan tak akan kulupakan janji yang telah kami ikrarkan ini.
            Kami pun berpisah di suatu pelabuhan. Dari tujuannya sepertinya Lina akan pulang ke rumahnya di jepang. Walau sebenarnya parasnya itu seperti campuran Asia-Eropa.
            Aku pun lupa menanyakan pekerjaannya. Pekerjaan apa yang akan memakan waktu lenggang separah itu?
            Angelina Tohdou Primula, namamu agak aneh tapi justru unik dan ku yakin keunikan itu yang akan mempertemukan kita lagi.
            Namun ketika bertemu dengannya lagi maka apa yang harus kukatakan kepadanya? Tapi biarlah, hanya waktu yang akan menjawabnya.


            Sebelas tahun telah berlalu. Dunia yang sekarang pun sudah berubah seiring dengan perkembangan zaman.
            Tetapi perubahan ini justru berdampak negatif. Perang dunia ketiga telah terpelatuk dengan ditemukannya sebuah sumber daya baru.
            Sumber daya yang dapat menggantikan kerja minyak bumi, listrik, bahkan senapan mesin sekalipun. Yaitu sebongkah bebatuan yang ada di beberapa negara yang salah satunya ialah negaraku sendiri.
            Nama bebatuan itu adalah batu Aleph. Diambil dari bentuknya yang kecil – kecil namun menyimpan energi yang tidak akan habis bahkan 1 miliar tahun sekalipun. Istilah namanya juga diambil dari satuan deret tak hingga terkecil dari angka – angka rill, Aleph-0.
            Aku sekarang bekerja sebaga tim riset batu tersebut dan karena ini sangat rahasia maka informasi mengenai diriku yang sesungguhnya dihapuskan dari permukaan.
            Jika dipikir ini cukup ironi namun inilah takdirku dan aku harus siap dalam segala hal termasuk dibunuh oleh pihak musuh. Ini pula menjadi tanda baktiku terhadap negara.
            “Rain, tolong buatkan simulasi program penggunakan batu Aleph untuk proyek SHIELD”
            “Baik pak!”Jawabku.
            Inilah pekerjaanku, inilah hidupku, inilah jalan masa depanku.
            “Rain, Bolehkah saya bertanya?”Tanya rekan kerjaku.
            “Apa itu?”
            “Kamu tidak jenuh dengan aktivitas ini? Yang lain terkadang mengambil cuti liburan tetapi kamu tidak.”
            “Liburan kah? aku belum pernah punya pikiran untuk mengambilnya hingga saat ini. Lagipula mau liburan ke mana?”
“Hahaha, benar juga ya, Dunia yang sudah kacau ini mau liburan ke mana.”
“(Liburan ya…)”
Aku jadi teringat suatu hal. Apa kabarnya saat ini ya? Sudah sebelas tahun semenjak aku dengannya bertemu dan aku belum dapat menepati janji kami untuk kembali bertemu di bawah cahaya bulan yang menawan.
Kuharap Lina belum mati dan dapat mewujudkan impiannya untuk dapat terbang di angkasa dan pergi ke bulan. Jika dipikir untuk usianya yang seperti baru 18 tahun itu terlihat mimpinya sedikit kekanak- kanakan tapi aku yakin ia dapat mewujudkannya.
Satu minggu telah berlalu, proyek SHIELD resmi dijalankan. Proyek ini dipelopori oleh diriku dan dibantu oleh rekan satu timku sendiri.
Proyek SHIELD, suatu metode pemanfaatkan batu Aleph agar dapat membuat dinding khusus untuk mengurung negaraku ini dari serangan nuklir dan sejenisnya karena negara kami dikucilkan dan dianggap sebagai musuh dunia sekaligus pelopor perang dunia ini.
Namun, tak disangka baru saja satu minggu setelah dijalankan ternyata tempat riset ini diserbu oleh pasukan khusus dari bangsa Eropa.
Mereka adalah Dis irae. Kumpulan orang – orang terpilih yang tubuhnya telah difusikan dengan batu Aleph dan selamat dalam uji coba yang memakan banyak korban. Mereka pula pelopor tertinggi fraksi Eropa.
“Rain, bawalah data ini! jangan sampai data ini direbut oleh mereka!”Ucap atasanku.
“Mereka sudah datangkah?”Ucapku.
“Bawa ini untuk berjaga – jaga.”
Itu adalah sebuah senjata khusus berjenis Handgun dengan sumber batu Aleph. Ini adalah prototype yang telah dibuang karena fungsinya terlalu berbahaya yaitu dapat membuat suatu objek menjadi abu dengan sekejap.
“Dari mana profesor mendapatkan ini?”
“Aku tahu Dis irae akan datang kemari cepat atau lambat. Oh iya kau ada dasar militer bukan?”
“Iya saya punya.”
“Lindungi data ini dengan nyawamu dan jangan serahkan kesiapapun atau kepihak manapun!”
“Baik!”Jawabku.
“Tim Alpha aktifkan mode penghancuran diri dengan durasi 15 menit.”
“Baik profesor!”
Setelah mode penghancuran diri diaktifkan aku harus berlari dan menyarukan diri dengan teman – temanku yang lain agar tidak ditemukan oleh kelompok Dis irae itu.
Namun…
“Jangan bergerak!”Ucap ketua dari kelompok Dis irae.
“(Mereka datang lebih cepat!)”
“SEMUANYA LARI!!!”Ucap profesor.
“Rain! Hacurkan mesin SHIELD dengan sejata itu. Kita harus memusnahkannya sebelum terlambat!”
Aku dengan segera lari menuju ruang khusus yang berada di lantai paling bawah sendirian dan rekau yang lain berusaha lari sembari memancing perhatian mereka namun ternyata ada beberapa ilmuan yang justru melawan dengan senjata seadanya.
“Nona, ada satu yang kabur. Apa yang harus ku lakukan?”
“Biar aku yang mengurusnya, kalian habisi semua yang ada di sini dan ambil alih kendali proyek ini.”
“(Sepertinya aku dibuntuti!)”Firasatku.
“Habisi mereka, lindungi proyek ini!!!”Teriak profesor.
“Untuk negara kita!!!”Teriak yang lain.
Terjadi perkelahian antara tim riset dan Dis irae namun pada dasarnya hal itu hanya untuk mengulur waktu agar aku dapat memusnahkan proyek ini. Aku yang memulainya maka aku yang harus mengakhirinya.
“Percuma untuk lari.”Suara seorang perempuan yang sedang mencoba membunuhku.
Aku berusaha lari dari gerekannya yang gesit dan memberi sedikit perlawanan sembari berlari.
“Untuk apa kau menginginkan proyek SHIELD ini!”Teriaku.
“Itu bukan urusanmu! Ini adalah perintah!”
Kami berdiskusi jarak jauh sembari beradu tembak satu sama lain.
“Kami hanya ingin damai, mengapa kau tidak mengerti!”
“DIAM!”Ucap sang wanita.
“Kau pikir ini semua pilihanku! Salahkan takdir yang menimpamu!”
“Takdir memang tidak dapat diubah, tapi nasib setiap orang bisa dirubah!”
“Boooom!”
Aku berhasil menjejebaknya di suatu ruangan dan menguncinya. Paling tidak aku punya cukup waktu untuk menghancurkan mesin generator SHIELD dan sepahitnya aku pula yang akan melenyapkan data ini agar tidak dapat disalahgunakan.
Setelah beberapa lama aku tiba di ruang generator, waktu menunjukan bahwa aku mempunyai waktu 5 menit lagi.
Namun, aku mendengat suara pistol di belakangku. Sepertinya inilah akhirnya.
“Aku tidak akan berhenti.”Ucapku.
“Maka kau akan mati di sini.”
“Coba saja.”
Aku menembakan mesin generator itu berikut menghancurkan data proyek ini dengan pistol khususku dan di saat yang sama aku pun tertembak dan usahaku digagalkan.
“Cih!”
“Jangan melawan.”Ucap sang wanita.
Wanita itu menggunakan topeng dengan pakaian khusus bewarna hitam sembari melihat rendah diriku dengan pistolnya.
“Mengapa kau melakukannya sampai sejauh ini?”Tanya sang wanita.
“Karena demi melindungi negaraku.”
“Cih, jangan berbohong!”
“*Huuuuuh*Aku mempunyai janji dengan seseorang. Dia menungguku di bawah sinar bulan di pantai sana.”
“Aku ingin sekali bertemu dengannya karena aku selalu menepati suatu janji.”
“Tapi sepertinya aku tidak akan menemukannya. Huh, Inilah dosaku.”
Entah mengapa wanita itu sepertinya bersedih di balik topeng itu Kemudian suaranya melembut.
“Akan ku wujudkan janjimu itu…”Jawab sang wanita.
“Bisakah kau membawaku ke pantai terdekat? Aku ingin sekali melihat bulan purnama malam ini.”
“Penghancuran diri dibatalkan.”Bunyi suara operator sistem.
“Sepertinya timku sudah selesai dengan tugasnya.”Ucap sang wanita.
“Cih, menyebalkan juga ya hahaha.”
Aku menahan rasa sakit yang berada di tubuhku ini. Luka tembak ini begitu serius rupanya.
Tiba – tiba sang wanita mengaktifkan suatu alat teleportasi di tangan kanannya.


“Ini di mana?”Tanya ku.
“Di tempat yang kau harapkan.”Ucap sang wanita dengan lembut.
Aku dibaringkan di atas pangkuan wanita itu sembari melihat bulan pernama lalu mata sang wanita menatapku dengan penuh kesedihan.
“Rain…”
Ia membuka topeng itu dan memperlihatkan paras yang sesungguhnya. Bola mata yang indah bagai di padang bulan dan rambut emas yang berkibar ditiup angin laut.
“Hahaha, sepertinya aku dapat meninggal dengan tenang.”
“Bodoh…”Ucapnya.
“Bodoh bodoh bodoh bodoh bodoh!”Teriaknya.
“Mengapa Lina? Bukannya kita dapat bertemu kembali?”
“Dari semua orang bodoh di dunia ini, mengapa harus kau!”
“Aku tidak menyesal Lina. Aku tidak akan menyesal atas apa yang terjadi hingga detik ini.”
Butiran air mata jatuh dari bola matanya seakan ia tidak dapat menahan malu dan penyesalannya saat ini.
“Berkat janji kita ini aku dapat hidup, berjuang, dan berdiri hingga saat ini.”Ucap Lina.
“Dan aku baru saja melukai orang yang paling berharga bagiku.”
“Akulah sebenarnya wanita yang bodoh!”
“Tidak, kau tidak bodoh Lina. Kau hanya mejalankan tugasmu bukan?”
“Rain….”
“Maafkan aku…”
“Apakah kau sudah bisa terbang ke bulan? Hahaha.”
“Tanpa dirimu mana mungkin aku bisa! Kau pemberi harapan untukku!”
“Tetaplah hidup Lina dan jagalah dirimu.”
“Percayalah pada suara hatimu dan berjanjilah padaku sekali lagi bahwa kau akan menjadi dirimu yang sebenarnya.”
“Rain…”
“Aku sudah tidak bisa lama – lama lagi, Lina ada yang mau kukatakan padamu sebelum aku pergi.”
“Lina…”
“T-terima k-kasih…”
Aku tersenyum tetapi mataku gelap gulita. Tubuhku dingin bagaikan es. Aku mulai merasakan bahwa ruhku sudah dalam perjalanan menuju alam sana.
“Aku berjanji padamu Rain. Akan kupastikan kau bahagia di alam sana.”
Sensasi yang kurasakan adalah sapuan tangannya dan perasaan inilah yang terakhir kali bisa kurasakan.
“S-selamat t-tinggal, ha…”
“RAIN!”
“AHHHHHH!!!!!!”
“(…)”
~ END ~

[Cerita Pendek] Lina's Salvation

Posted by : Raindeca Dzulikrom Haqqu
Sunday, March 4, 2018
0 Comments

     Dalam Postingan Kali ini saya akan menggunakan game yaitu VN yang dikenal sebagai Visual Novel sebagai Saluran Pembejalajaran mengenai Ruang lingkup Ilmu Sosial Dasar, Perbedaan Ilmu Sosial Dasar dengan Ilmu Pengetahuan Sosial berikut pula Persamaan dari keduanya.
     
     Video Di atas Tidak dimaksudkan untuk menyindir ataupun menyinggung siapa pun, bila ada hal yang kurang berkenan mohon bukaan pintu maafnya atas kekhilafan saya sebagai pembuat konten.
     
     Atribusi Video menggunakan Format Common Creative - Atribution , jadi bila anda menggunakan video saya sebagai basis ataupun metodenya maka anda saya perbolehkan dengan syarat mencantumkan kredit dengan nama saya dalam penggunaan anda.


*Note: Maaf Script nya berantakan

[Ilmu Sosial Dasar] Persamaan dan Perbedaan ISD vs IPS dan Ruang Lingkup Ilmu Sosial Dasar

Posted by : Raindeca Dzulikrom Haqqu
Monday, January 22, 2018
0 Comments


     Hello Everyone, This is my First debut for making a Sheet Music/Note Sheet for my Melodica Covers~
So, I hope you Enjoy It ^^
     About my poiicy for this Sheet, I permit you to Use it for any purposes like Education, Show-off, anything you like ^^ , but please give me credit/atribution by giving my name on it ^^
     BUT , I WON'T ALLOW YOU TO REUPLOAD MY SHEET (Except telling me first, and for what reason behind it)

Maybe that's all~
Tell what you think about this sheet? is it Difficult to read?
Please, Give me your feedback through Youtube Inbox/Comment/or This Blog ^^
i will make sure to fix it as soon as i can ~
Nyahahaha~

Best Regards,





Raindeca - Anime on Melodica





    



[Sheet Music] Gakkou Gurashi OP - Friend Shitai by Raindeca - Anime on Melodica

Posted by : Raindeca Dzulikrom Haqqu
Monday, December 25, 2017
0 Comments

- Copyright © 2013 Eucliwood Hellscythe's Blog - Shiroi - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -